Susno Duadji: Bangga Menjadi Polisi, dari Puncak Karier hingga Penjara

Kamis, 25 Desember 2025 | 20:49:11 WIB

Jakarta(OB) - Dalam sebuah bincang santai namun sarat makna di kanal YouTube Mahmud MD, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Pol (Purn) Susno Duadji menyampaikan refleksi jujur tentang perjalanan hidupnya sebagai seorang polisi—sebuah perjalanan yang membawanya dari puncak institusi kepolisian hingga mendekam di balik jeruji besi.

“Sebagai orang yang dibesarkan oleh kepolisian, dan pada saat yang sama juga jatuh bangun bahkan sampai di penjara, saya bangga menjadi polisi,” ujar Susno dengan nada ringan namun penuh perenungan.

Susno menuturkan bahwa profesi kepolisian telah memberinya pengalaman hidup yang sangat luas. Ia mengaku bangga pernah menangkap dan memenjarakan orang, terlibat langsung dalam penegakan hukum, bahkan menjadi bagian dari tim perumus Undang-Undang—sebuah peran yang menurutnya jarang diberikan kepada anggota Polri.

“Saya jadi polisi yang menangkap orang, memenjarakan orang, jadi perumus Undang-Undang, dan juga jadi polisi yang dipenjarakan,” ucapnya sambil tertawa, menandai sikap berdamai dengan masa lalu.

Persahabatan yang Berawal dari Konflik

Dalam perbincangan tersebut, Prof. Mahfud MD—mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan Menko Polhukam—mengungkap sisi lain dari hubungan mereka. Ia mengakui bahwa persahabatannya dengan Susno justru dimulai dari pertentangan keras, terutama pada masa konflik besar antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri yang dikenal publik dengan istilah “Cicak vs Buaya.”

“Saya dan Pak Susno memulai persahabatan dari pertikaian. Saat itu, kami menuduh bahwa Pak Susno adalah biang kerok konflik KPK dan Polri. Kami berdiri di belakang KPK,” ungkap Mahfud kepada host Ruang Sahabat, Rizal.

Namun, seiring berjalannya waktu dan dinamika hukum yang menimpa Susno, pandangan Mahfud berubah.

“Ketika suatu saat beliau dikriminalisasi—menurut saya, ya—baru saya tahu bahwa polisi yang satu ini adalah polisi hebat, hatinya baik,” kata Mahfud.

Surat dari Penjara yang Mengubah Segalanya

Momen paling menyentuh dalam perbincangan itu terjadi ketika Mahfud menceritakan surat yang ia terima dari Susno saat sang jenderal berada di penjara. Surat tersebut, menurut Mahfud, mencerminkan ketulusan dan jiwa pengabdian seorang penegak hukum.

“Kurang lebih isinya begini: Pak Mahfud, saya sekarang menerima semua ini dan harus meringkuk di penjara. Saya ikhlas sebagai pengorbanan. Tapi saya minta Pak Mahfud terus berjuang, Indonesia butuh penegak hukum,” kenang Mahfud dengan nada haru.

Ia mengaku sangat tersentuh, terlebih karena sebelumnya ia adalah salah satu pihak yang paling keras mengkritik dan “menghantam” Susno secara terbuka.

“Padahal saya dulu menghantam beliau habis-habisan,” ujar Mahfud jujur.

Refleksi tentang Hukum dan Integritas

Dialog antara Susno Duadji dan Mahfud MD bukan sekadar nostalgia atau klarifikasi masa lalu, melainkan refleksi mendalam tentang integritas, kekuasaan, dan pengorbanan dalam penegakan hukum di Indonesia. Kisah mereka menunjukkan bahwa konflik politik dan hukum tidak selalu berakhir pada permusuhan, melainkan dapat bermuara pada saling pengertian dan penghormatan.

Percakapan ini juga menjadi pengingat bahwa dalam sistem hukum yang kompleks, kebenaran sering kali tidak hitam-putih. Bahkan mereka yang pernah berada di kubu berseberangan dapat menemukan titik temu atas dasar nilai yang sama: keadilan dan kepentingan bangsa.(Riko) 

Halaman :

Terkini