Pengamat: Perpindahan Matra di TNI Bukan Hal Baru, Sudah Terjadi Sejak Operasi Trikora

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:24:23 WIB

JAKARTA(OB) — Pengamat politik dan pertahanan dari Universitas Nasional (Unas), Selamat Ginting, menegaskan bahwa fenomena perpindahan matra dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI) bukanlah hal baru. Polemik publik yang muncul setelah perpindahan atlet angkat besi nasional Rizki Juniansyah dari TNI AL ke TNI AD dinilai tidak berdasar.

Menurut Selamat, praktik perpindahan matra telah terjadi sejak awal pembentukan kekuatan TNI, bahkan jauh sebelum era modern saat ini.

Sudah Dilakukan Sejak Operasi Trikora

Selamat menjelaskan bahwa pada masa persiapan Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat tahun 1961–1962, perpindahan matra dilakukan demi kepentingan organisasi dan operasi militer.

“Tidak benar bahwa kasus pindah matra baru terjadi kali ini. Pada masa Operasi Trikora, perpindahan serupa sudah dilakukan untuk memperkuat KKO Angkatan Laut,” ujar Selamat Ginting, Jumat (16/1/2026).

Saat itu, dua perwira Korps Zeni Angkatan Darat dipindahkan ke matra laut untuk membantu pembentukan Batalyon Zeni KKO (kini Korps Marinir). Kedua perwira tersebut adalah:

Lettu CZI TGM Harahap, lulusan AZIAD 1956

Letda CZI Sujono, lulusan AZIAD 1959 dan seangkatan dengan Letda CZI Try Sutrisno (kelak menjadi Wakil Presiden RI)

Keduanya ditugaskan untuk "membidani" kelahiran satuan zeni baru di KKO AL.

Perpindahan Korps Juga Bukan Hal Aneh

Selain perpindahan antar-matra, Selamat menambahkan bahwa perpindahan antarkorps juga lazim di tubuh TNI.

Beberapa contoh perpindahan yang sering terjadi:

Perwira Korps Zeni, Korps Komlek, dan Korps Peralatan berpindah ke Korps Infanteri setelah lulus pendidikan komando Kopassus.

Perwira Infanteri berpindah ke satuan administrasi seperti Korps Ajudan Jenderal, biasanya karena alasan kondisi fisik yang tak lagi memungkinkan bertugas di satuan tempur.

Artinya, dinamika rotasi dan perpindahan personel merupakan hal yang lumrah sebagai bagian dari kebutuhan organisasi dan profesionalisme militer.

Sorotan Publik pada Kasus Rizki Juniansyah

Pernyataan Selamat Ginting muncul di tengah sorotan publik terkait keputusan Panglima TNI yang memberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) kepada atlet angkat besi sekaligus perwira TNI, Rizki Juniansyah.

Rizki mendapat kenaikan dua tingkat sekaligus, dari Letnan Dua menjadi Kapten, serta dipindahkan dari TNI Angkatan Laut ke Angkatan Darat. Kenaikan pangkat diberikan setelah ia meraih medali emas dan memecahkan rekor dunia di SEA Games 2025 Thailand.

Keputusan tersebut diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada acara penyerahan bonus atlet di Istana Negara, Jakarta, 8 Januari 2026.

Kebijakan itu memicu diskusi publik karena dianggap tidak lazim. Namun, Selamat menegaskan bahwa langkah tersebut tetap berada dalam koridor aturan TNI dan bukan pertama kali terjadi dalam sejarah.(Riko) 

Terkini