Orbit Berita.com, JAKARTA – Di balik sosok Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Kapolri legendaris yang dikenal karena integritas dan keteguhannya, ada perempuan bernama Meriyati Hoegeng—atau akrab disebut Eyang Meri—yang sepanjang hidupnya menjadi penenang, pendamping, dan kekuatan bagi keluarga. Pada Rabu (4/2/2026), di usia 100 tahun, perempuan penuh ketulusan itu akhirnya berpulang dan dimakamkan di Taman Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giritama, Tonjong, Bogor, Jawa Barat, dengan upacara kedinasan Polri.
Perpisahan Penuh Haru dari Rumah Duka
Sejak pagi, suasana kediaman Pesona Khayangan Estate DG-DH 1, Mekarjaya, Depok, tampak diliputi kesedihan. Di tempat almarhumah disemayamkan, isak pelan dan pelukan keluarga menyambut pelayat yang datang untuk menghaturkan doa.
Putra almarhumah, Aditya Soetanto, berdiri mewakili keluarga untuk melepas kepergian sang ibunda.
“Akhirnya kami atas nama keluarga menyerahkan jenazah almarhumah Ibu Meriyati Hoegeng untuk diberangkatkan ke pemakaman TPU Giritama, dan dimakamkan secara kedinasan dengan upacara kebesaran Polri,” katanya dengan suara yang berusaha tegar.
Di usia seabad, Eyang Meri telah melewati perjalanan panjang yang penuh nilai. Tidak hanya sebagai istri dari seorang tokoh besar, tetapi sebagai pribadi yang menjaga kehangatan rumah dan menjadi panutan bagi anak cucunya.
Sosok yang Selalu Mendampingi Sang Jenderal
Kehidupan Jenderal Hoegeng yang sarat tekanan dan penuh tantangan tidak pernah membuat Eyang Meri mundur selangkah pun dari sisinya. Ia memilih menjadi penopang di belakang layar—menjaga keluarga, memberikan ketenangan, sekaligus mendukung langkah sang suami dalam menjalankan tugas berat sebagai Kapolri.
Banyak yang mengenang sosoknya sebagai pribadi rendah hati, sederhana, dan tulus. Nilai-nilai itu pula yang menjadikan kepergiannya sebagai kehilangan mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tapi juga bagi masyarakat yang mengagumi figur Hoegeng Iman Santoso.
Upacara Kedinasan yang Khidmat
Menjelang siang, iring-iringan kendaraan pembawa jenazah bergerak menuju Bogor. Setibanya di TPBU Giritama, jajaran Polri telah bersiap memberikan penghormatan terakhir. Bendera, komando, dan tabik hormat menjadi simbol bahwa institusi kepolisian turut merasakan duka dan menghormati kontribusi keluarga besar Hoegeng.
Upacara berlangsung khidmat. Doa mengalun, sementara keluarga dan kerabat menundukkan kepala, merelakan kepergian sosok yang selama satu abad menjadi sumber cahaya bagi orang-orang di sekelilingnya.
Warisan Keteladanan yang Tak Akan Pudar
Meriyati Hoegeng bukan sekadar pendamping seorang jenderal, ia adalah contoh tentang kesetiaan, ketabahan, dan ketulusan. Kehangatan sikap dan sifatnya meninggalkan jejak mendalam bagi banyak orang.
Kini, setelah satu abad menjalani kehidupan yang penuh warna dan makna, Eyang Meri berpulang dengan meninggalkan teladan—bahwa keteguhan seorang pemimpin sering lahir dari kekuatan seorang istri yang setia mendampingi.
Selamat jalan, Eyang Meri. Terimakasih atas jejak kebaikan yang ditinggalkan.
Penulis :Riko F. Sitompul