JAKARTA(OB) - “Tumbal.”
“Tangannya ke mana?”
“Kasihan sekali.”
Bagi sebagian orang, kalimat-kalimat itu mungkin hanya komentar yang terlontar begitu saja. Namun, bagi Jacqueline, setiap kata adalah luka yang menempel dalam ingatan. Luka yang tidak terlihat, tetapi terus hidup setiap kali mata-mata asing memandang tubuhnya dengan heran.
Sejak kecil, ia belajar bahwa menjadi "berbeda" berarti harus siap menjadi tontonan.
Orang-orang lebih dulu melihat tubuhnya, sebelum mengenal namanya.
Jacqueline bahkan belum sempat mengenal dunia ketika hidupnya sudah menghadirkan ujian yang begitu besar. Di usia tiga bulan, kedua orang tuanya menitipkannya di Panti Asuhan Yayasan Bhakti Luhur, Malang, Jawa Timur.
Banyak orang mungkin mengira ia dibuang.
Padahal kenyataannya jauh berbeda.
Keputusan itu lahir dari cinta. Kedua orang tuanya memahami bahwa putri kecil mereka membutuhkan perawatan yang tidak sanggup mereka berikan. Mereka menitipkan Jacqueline kepada tangan-tangan yang diyakini mampu merawatnya dengan kasih sayang.
Di sanalah Jacqueline menemukan keluarga.
Bukan keluarga yang diikat oleh darah, tetapi oleh cinta yang memilih untuk tetap tinggal.
Menurut Suster Imakulata Nenong dalam wawancaranya bersama jurnalis Anya Dwinov, Jacqueline lahir dengan kondisi Multiple Congenital Anomaly, kelainan bawaan yang menyerang lebih dari satu bagian tubuh. Ia mengalami bibir sumbing, celah langit-langit mulut, kelainan pada mata, tangan, dan kaki.
Secara medis, tubuh Jacqueline memiliki banyak keterbatasan.
Namun tidak ada satu pun diagnosis yang mampu mengukur kekuatan hatinya.
Tahun demi tahun berlalu.
Jacqueline tumbuh bukan hanya menghadapi keterbatasan fisik, tetapi juga keterbatasan cara berpikir masyarakat.
Di jalan, di pusat perbelanjaan, bahkan di media sosial, selalu ada orang yang merasa berhak mengomentari tubuhnya.
Ada yang tertawa.
Ada yang menunjuk.
Ada pula yang menyebut dirinya "tumbal", seolah keberadaannya bukan manusia yang memiliki perasaan.
Tak jarang, pertanyaan paling menyakitkan justru diucapkan tanpa rasa bersalah.
“Tangannya ke mana?”
Pertanyaan itu mungkin sederhana bagi yang mengucapkannya.
Namun bagi seseorang yang harus menerimanya berkali-kali sepanjang hidup, pertanyaan itu perlahan berubah menjadi beban.
Tetapi Jacqueline memilih jalan yang berbeda.
Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian.
Ia memilih berdamai.
Dalam sebuah wawancara yang dipandu Anya Dwinov, Jacqueline mendapat pertanyaan yang mungkin mewakili rasa penasaran banyak orang.
Bagaimana ia mampu tetap tersenyum setelah menerima begitu banyak hinaan?
Jawaban Jacqueline tidak panjang.
Tidak dramatis.
Dengan suara lembut dan mata yang penuh ketenangan, ia mengatakan bahwa ia tidak ingin membenci orang-orang yang menghina dirinya.
Mereka hanya belum mengenalnya.
Mereka hanya melihat tubuhnya, bukan hatinya.
Ia memilih bersyukur karena Tuhan masih memberinya kehidupan, orang-orang yang mencintainya, dan kesempatan untuk terus berkarya.
Ia percaya, kebencian tidak akan menyembuhkan luka.
Hanya kasih yang mampu melakukannya.
Kalimat-kalimat itu membuat suasana studio mendadak sunyi.
Anya Dwinov yang sejak awal berusaha tetap profesional akhirnya tidak mampu lagi menahan emosinya.
Air mata mengalir di pipinya.
Bukan karena rasa iba.
Melainkan karena ia sedang menyaksikan sesuatu yang langka—seorang perempuan yang berkali-kali disakiti justru memilih memaafkan.
Di hadapan Anya, Jacqueline tidak sedang berbicara tentang disabilitas.
Ia sedang mengajarkan arti menjadi manusia.
Kasih sayang yang ia terima sejak kecil akhirnya membentuk keberanian yang tak mudah dipatahkan.
Jacqueline melangkah ke dunia yang bahkan sering memuja kesempurnaan fisik.
Dunia fashion.
Banyak orang mengira panggung hanya milik mereka yang memiliki tubuh ideal.
Namun Jacqueline membuktikan bahwa panggung sesungguhnya adalah milik mereka yang memiliki keberanian.
Ketika ia berjalan di atas catwalk Indonesia Fashion Week, setiap langkahnya membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar memperagakan busana.
Ia sedang meruntuhkan tembok stigma.
Ia sedang memperlihatkan bahwa kecantikan bukan tentang jumlah jari, bentuk wajah, atau kesempurnaan tubuh.
Kecantikan adalah keberanian menerima diri sendiri.
Jacqueline tidak pernah meminta dunia mengasihaninya.
Ia hanya berharap dunia berhenti menghakimi seseorang dari penampilan.
Sebab tidak semua luka tampak oleh mata.
Ada luka yang tumbuh setiap kali seseorang merasa dirinya tidak cukup berharga hanya karena berbeda.
Hari ini, Jacqueline telah menjawab semua hinaan yang pernah diarahkan kepadanya.
Bukan dengan kemarahan.
Bukan dengan balas dendam.
Melainkan dengan prestasi, kasih, dan ketulusan.
Ironisnya, perempuan yang dulu disebut "tumbal" kini justru menjadi penolong bagi banyak hati yang kehilangan harapan.
Ia mengajarkan bahwa keterbatasan tidak pernah menentukan nilai seorang manusia.
Karena yang membuat seseorang utuh bukanlah tubuh yang sempurna.
Melainkan hati yang tetap memilih mengampuni ketika dunia berkali-kali melukai.
Dan mungkin, pada akhirnya, Jacqueline tidak sedang mengubah cara dunia memandang penyandang disabilitas.
Ia sedang mengubah cara dunia memandang manusia.
Penulis: Rico F. Sitompul