Tribrata Bhakti Hutagalung dipercaya menjadi satu-satunya wakil undangan resmi dari Kecamatan Sungai Sembilan

Dari Pelosok Senepis, Tribrata Menembus Workshop PWI: Ditempa Orbit Berita, Kini Bawa Suara Warga ke Panggung Jurnalistik

Dari Pelosok Senepis, Tribrata Menembus Workshop PWI: Ditempa Orbit Berita, Kini Bawa Suara Warga ke Panggung Jurnalistik

DUMAI(OB) — Dari sebuah wilayah pelosok di ujung Kota Dumai, langkah Tribrata Bhakti Hutagalung bergerak menuju ruang belajar para jurnalis.

Ia datang dari Senepis, Kelurahan Batu Teritip, Kecamatan Sungai Sembilan.

Bukan dari pusat kota. Bukan pula dari lingkungan yang penuh fasilitas.

Namun ada satu modal yang dibawanya: kemauan keras untuk belajar.

Tribrata hadir dalam Workshop Jurnalistik PWI Dumai sebagai satu-satunya peserta yang mendapat undangan resmi untuk mewakili seluruh kelurahan di Kecamatan Sungai Sembilan.

Bagi Tribrata, kepercayaan itu bukan sekadar sebuah undangan.

Ada nama kampung yang ikut dibawanya.

Ada masyarakat yang ingin ia perjuangkan melalui tulisan.

Ditempa keras di Orbit Berita

Sebelum sampai pada workshop PWI, Tribrata telah lebih dulu merasakan kerasnya dunia jurnalistik melalui Media Massa Orbit Berita.

Di sana, ia ditempa untuk memahami bahwa wartawan tidak cukup hanya bisa menulis.

Seorang jurnalis harus berani turun ke lapangan, menggali fakta, melakukan konfirmasi, menjaga etika, dan berani menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat.

Proses tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Tribrata sebagai wartawan.

Namun ia tidak merasa cukup.

Workshop PWI Dumai justru menjadi kesempatan baginya untuk kembali mengasah kemampuan dan memperluas wawasan jurnalistik.

"Masih banyak yang harus saya pelajari. Saya ingin ilmu yang saya dapat dari workshop ini bisa saya terapkan di lapangan dan benar-benar berguna bagi masyarakat," kata Tribrata.

Pulang membawa ilmu, bukan sekadar cerita

Ada alasan mengapa Tribrata begitu serius mengikuti workshop tersebut.

Ia ingin membawa perubahan dari hal sederhana: membuat cerita masyarakat pelosok terdengar.

Menurutnya, masih banyak potensi Senepis dan Kelurahan Batu Teritip yang belum diketahui publik.

Begitu pula persoalan masyarakat yang terkadang membutuhkan perhatian lebih luas.

Dengan kemampuan jurnalistik yang terus diasah, ia berharap dapat menjadi salah satu jembatan informasi antara masyarakat di pelosok dengan dunia luar.

"Harapan saya, apa yang saya dapat di sini nantinya bisa bermanfaat untuk masyarakat, khususnya masyarakat Senepis dan Batu Teritip. Kalau ada potensi atau persoalan yang perlu diketahui, mudah-mudahan bisa saya sampaikan dengan baik dan benar," ujarnya.

Dari pelosok, untuk masyarakat

Perjalanan Tribrata mungkin terlihat sederhana.

Seorang wartawan dari pelosok mengikuti sebuah workshop jurnalistik.

Namun di baliknya terdapat pesan yang lebih besar.

Bahwa jarak tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar.

Bahwa seorang wartawan dari kampung terpencil pun bisa memiliki kesempatan untuk berkembang.

Dan bahwa ilmu jurnalistik akan jauh lebih berarti ketika digunakan untuk masyarakat.

Tribrata datang dari Senepis dengan pengalaman ditempa keras di Orbit Berita.

Ia hadir di workshop PWI untuk menambah ilmu.

Dan ketika kembali ke kampung, ia ingin membawa satu hal yang lebih penting dari sekadar pengalaman:

sebuah kemampuan untuk membuat suara masyarakat pelosok terdengar.

Dari Senepis ia berangkat. Dari dunia jurnalistik ia ditempa. Dan untuk masyarakat, ia ingin mengabdi.

Penulis : Riko F. Sitompul

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index